Kamis, 27 November 2014

Teknologi Penginderaan Jauh Kelautan

           

                                                              Abstrak 

      Penentuan  lokasi  budidaya  rumput  laut  tidak  jarang  mengalami  kendala  yang membutuhkan  banyak  biaya,  waktu, serta tenaga. Teknologi berupa penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi solusi yang  baik dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk  menganalisis kesesuaian lokasi budidaya rumput laut perairan Teluk Gerupuk, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.  Penentuan  kesesuaian  lokasi  budidaya  rumput  laut  menggunakan  citra  satelit  Landsat  8  untuk  mengekstraksi .informasi parameter suhu permukaan laut (SPL), dan muatan padatan tersuspensi (MPT). Peta tematik tersebut di  tumpang  susun  sehingga  dihasilkan  peta  kesesuaian  lokasi  budidaya  rumput  laut.  Hasil  dari  penelitian  ini  menghasilkan lokasi sesuai untuk budidaya rumput laut di Teluk Gerupuk adalah 342.44 ha (25.22%), luas lokasi  cukup sesuai adalah 190.78 ha (14.05%), dan luas lokasi tidak sesuai adalah 669.32 ha (49.3%).   Kata kunci: penentuan lokasi, penginderaan jauh, rumput laut, SIG  



1. Pendahuluan 
        Peluang pengembangan usaha perikanan dan kelautan Indonesia memiliki prospek yang baik. Salah  satu  sumberdaya  hayati laut  Indonesia  yang  mempunyai  peluang  pengembangan  produksi dan  peluang  ekspor yang baik adalah rumput laut. Penentuan lokasi budidaya rumput laut sangat penting dilakukan  karena karakteristik rumput laut yang hidup dengan cara melekat pada substrat dan tidak dapat berpindah  tempat.  Tumbuhan  ini  hidup  dengan  cara  menyerap  nutrien  dari  perairan  dan  melakukan  fotosintesis,  sehingga pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti gerakan air, suhu,  kadar garam (salinitas), nitrat, dan fosfat serta pencahayaan sinar matahari (Atmadja et al. 1996). Nutrien  yang diperlukan oleh rumput laut dapat langsung diperoleh dari air laut melalui gerakan air atau biasa  disebut arus. Gerakan air tersebut berperan dalam mempertahankan sirkulasi zat hara yang berguna untuk  pertumbuhan (Dahuri 2003).  
        Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menentukan  kesesuaian  lokasi  budidaya  rumput  laut  di  perairan  Teluk  Gerupuk,  Lombok  Tengah,  Nusa  Tenggara  Barat  menggunakan  penginderaan  jauh  dan  Sistem  Informasi Geografis (SIG). Dari hasil Informasi Geografis (SIG). Dari hasil penelitian  ini diharapkan dapat memberikan informasi berupa peta arapkan dapat memberikan informasi berupa peta 

kesesuaian lokasi budidaya rumput laut khususnya di wilkesesuaian lokasi budidaya rumput laut khususnya di wilayah tersebut dan umuayah tersebut dan umumnya di perairan Lombok nya di perairan Lombok 

secara keseluruhan, serta menjadi masukan bagi pembudisecara keseluruhan, serta menjadi masukan bagi pembudisecara keseluruhan, serta menjadi masukan bagi pembudidaya rumput laut sebagai bahan pertimbangan daya rumput laut sebagai bahan pertimbangan daya rumput laut sebagai bahan pertimbangan  dalam memilih lokasi budidaya rumput laut yang tepat. ih lokasi budidaya rumput laut yang tepat.  
2. Metode 
2.1 Daerah Penelitian dan Survey LapanganDaerah Penelitian dan Survey Lapangan 
              Pengukuran data lapang diambil di perairan Teluk GePengukuran data lapang diambil di perairan Teluk GerupuPengukuran data lapang diambil di perairan Teluk Gerrupuk, Lombok Tengah, NTB. Pengumpulan upuk, Lombok Tengah, NTB. Pengumpulan k, Lombok Tengah, NTB. Pengumpulan  data tersebut dilakukan dengan cara pengukuran parameter kudata tersebut dilakukan dengan cara pengukuran parameter kualitas peraalitas perairan yang menjadi syarat utama iran yang menjadi syarat utama  kelayakan kelayakan  suatu suatu  lokasi lokasi  untuk untuk  dijadikan dijadikan  lokasi lokasi  budidbudidaya aya  rumput rumput  laut laut  (Gambar (Gambar  2.1--1).  Survei  lapang  dilakukan pada bulan Juni-Juli 2013 di Balai Budidaya Laut Lombok, Stasiun GerJuli 2013 di Balai Budidaya Laut Lombok, Stasiun GeruJuli 2013 di Balai Budidaya Laut Lombok, Stasiun Gerupupuk, Nusa Tenggara puk, Nusa Tenggara uk, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan titik pengambilan sampel di Teluk Gerupuk, NTB (Tabel lan sampel di Teluk Gerupuk, NTB (Tabel 2.1-1). 
Parameter  yang  diukur  meliputi  suhu,  kecepatan  arus,  salinitas,  derajat  keasaman  (pH)  dan  dissolved oxygen (DO). Metode pengumpulan data lapangan dilakukan sebagai berikut:  
   a.    Pengukuran  suhu,  salinitas,  pH  dan  dissolved  oxygen  (DO)  dilakukan  menggunakan  water  checker HANNA HI 9828, pada kedalaman 10 cm, 25 cm, 50 cm, 100 cm, 200 cm, dan 300 cm  pada tanggal 26-29 Juni 2013 pukul 09.00-13.30 WITA.  
  b.    Pengukuran  kecepatan  arus  permukaan  dilakukan  secara  langsung  di  setiap  titik  pengamatan  menggunakan  floating  dredge  yang  dibentangkan  menggunakan  tali  sepanjang  2  meter  dan  dicatat waktu tempuhnya dengan menggunakan stop watch.  
   c.    Penentuan posisi pengambilan sampel menggunakan GPS (Global Positioning System) GARMIN  GPS 12 XL.  
2.2  Kriteria Kesesuaian Budidaya Rumput Laut  
          Penentuan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut dilakukan dengan menentukan kesesuaiannya  berdasarkan kriteria nilai parameter yang telah terdapat di SNI (2010) dan Sulma et al. (2005).
 
2.3  Metode Penelitian  
Metode yang dilakukan dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut khususnya budidaya rumput  laut menggunakan metode long line yang mengacu pada metode Samad (2011) berdasarkan data satelit  penginderaan jauh dan SIG .
2.4.  Pengolahan Citra Satelit  
        Citra satelit yang digunakan adalah citra Landsat 8 tanggal 28 Juni 2013. Pengolahan data Landsat  8 dilaksanakan untuk memperoleh parameter fisik perairan laut, meliputi informasi Suhu Permukaan Laut  (SPL), Muatan Padatan Tersuspensi (MPT), dan keterlindungan.  
        Tahap  awal  pengolahan  data  satelit  penginderaan  jauh  dilakukan  proses  koreksi  berupa  koreksi  geometrik  dan  radiometrik.  Koreksi  geometrik  dilakukan  untuk  menyamakan  posisi  pada  citra  dengan  posisi   pada   bumi   menggunakan   acuan   peta   rupa   bumi.   Koreksi   radiometrik   dilakukan   dengan  menggunakan  nilai  digital  menjadi  nilai  radiansi  atau  reflektansi  yang  bertujuan  untuk  menghilangkan  kesalahan  sudut  elevasi  matahari  dan  jarak  matahari  bumi  pada  data  yang  berlainan  waktu,  serta  dilakukannya koreksi atmosferik akibat serapan dan pantulan yang dilakukan oleh partikel di atmosfer.  
         Seluruh algoritma yang digunakan dalam pengolahan citra satelit adalah sebagai berikut: 
1.  Penentuan suhu permukaan laut data Landsat 8 digunakan band 11: 

           T=K2/ln (K1?/Lλ )+1     = / ( + )  ...................................................................................... (2-1)
                                
dimana  T  :  suhu  efektif;  K1  dan  K2  :  nilai  konstanta  kalibrasi  diperoleh  dari  metadata;  L   :  Radian,    watt/(m *ster*µm),    
2.  Analisis parameter muatan padatan tersuspensi berdasarkan data Landsat 8 
         TSM (mg/l) = A * exp (S*R(0-) red band)  ....................................................................... (2-2) 
dimana  TSM  :  Muatan  padatan  tersuspensi;  dan  nilai-nilai  dari  konstanta  A=8,1429,  S=23,704  dan  R=0,94, (Budhiman 2004). 
2.5  Pengolahan Sistem Informasi Geografis  
       Pengolahan  Sistem  Informasi  Geografis  (SIG)  dilakukan  setelah  pengolahan  citra  satelit  dengan  parameter  yang  diolah  adalah  suhu  permukaan  laut,  muatan  padatan  tersuspensi,  dan  keterlindungan.  Pengolahan  awal SIG ini adalah  dengan  dilakukannya  pembuatan  peta tematik  menggunakan  software  ArcView GIS 3.2. Peta tematik ini kemudian di tumpang susun (overlay) dan ditentukan kesesuaiannya 
2.6 Penentuan Kesesuaian Lokasi Budidaya Rumput Laut  
Menurut Suwargana et al. (2006), masing-masing kelas tersebut didefinisikan sebagai berikut:  
  #Kelas sesuai (S1) merupakan kelas pada lahan yang tidak memiliki faktor pembatas yang berarti  untuk suatu keuntungan secara lestari. Hambatan tidak mengurangi produktivitas atau keuntungan yang  diperoleh dan tidak akanmeningkatkan masukan yang diperlukan sehingga melampaui batas-batas yang  masih dapat diterima.  
 #Kelas cukup sesuai (S2) merupakan kelas pada lahan yang memiliki faktor pembatas yang dapat 
mengurangi tingkat produksi atau keuntungan  yang diperoleh. Pembatas yang ada dapat meningkatkan  masukan atau biaya yang diperlukan.  
# Kelas tidak sesuai (S3) merupakan kelas pada lahan yang memiliki faktor pembatas yang bersifat  permanen.       
3. Hasil dan Pembahasan  
3.1  Sebaran Suhu  
        Sebaran suhu di perairan Teluk Gerupuk, NTB dari data penginderaan jauh terdapat empat kelas 
yaitu  28-28,5oC,  28,5-29  oC,  29-29,5  oC,  dan  29,5-30  oC  (Gambar  3.1-1)  dengan  luas  berturut-turut sebesar 2,19 ha (0,16%), 39,85 ha (2,93%), 1146 ha (84,41%), dan 14,50 ha (1,07%) .  
        Nilai  suhu  perairan  yang  diperoleh  dari  hasil  survei  lapang  pada  tanggal  28  Juni  2013  berkisar  29,04-29,69 oC (Gambar 3.1-2). Nilai kisaran suhu tersebut masuk ke dalam kriteria sesuai menurut SNI  (2010) yaitu sebesar 26-32 oC. Nilai suhu yang diperoleh dari data citra dengan nilai suhu yang diperoleh  dari hasil survei lapang memiliki nilai yang masuk ke dalam kriteria sesuai untuk budidaya rumput laut  menurut SNI (2010). 
Suhu  suatu  perairan  dipengaruhi  oleh  radiasi  matahari,  posisi  matahari,  letak  geografis,  musim,  kondisi awan, serta proses interaksi antara air dan udara, penguapan, dan hembusan angin (Dahuri et al.  2004).  Nilai  suhu  permukaan  laut  di  perairan  Teluk  Gerupuk  berdasarkan  data  citra  satelit  Landsat  8  berkisar antara 28-30 oC .Menurut SNI (2010), suhu perairan yang sesuai untuk budidaya  rumput  laut  adalah  26-32  oC.  Kondisi  ini  menunjukkan  bahwa  suhu  permukaan  laut  berdasarkan  hasil  citra termasuk kategori sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut.  
3.2 Sebaran Muatan Padatan Tersuspensi  
         Nilai  sebaran  muatan  padatan  tersuspensi  dari  data  penginderaan  jauh  dibagi  menjadi  17  kelas  dengan nilai terendah adalah 0 mg/l dan nilai tertinggi adalah 200 mg/l (Gambar 3.2-1). Luas wilayah  yang memiliki daerah terluas adalah dengan kisaran muatan padatan tersuspensi 5-10 mg/l yaitu 305,49  ha dan yang tersempit adalah 100-150 yaitu 10,53 ha.  

4. Kesimpulan 
            Hasil  dari  pengolahan  citra  satelit  Landsat  8  dan  pengolahan  SIG  serta  hasil  survei  lapangan  diperoleh   bahwa   lokasi   yang   tidak   memiliki   faktor   pembatas   dan   hambatan   tidak   mengurangi  produktivitas  memiliki  luas  sebesar  342.44  ha,  sedangkan  lokasi  yang  memiliki  faktor  pembatas  yang  dapat mengurangi tingkat produksi sebesar 190.78 ha, dan lokasi yang memiliki faktor pembatas  yang  permanen  sebesar  669.32  ha.  Disarankan  untuk  dilakukan  penelitian  lebih  lanjut  dengan  melakukan  pengukuran  parameter  kualitas  air,  iklim  dan  cuaca  secara  periodik,  dan  juga  dilakukan  penanaman  rumput laut untuk membandingkan hasil kesesuaian lokasi budidaya rumput laut berdasarkan hasil citra  satelit dengan hasil yang sebenarnya di lapangan.  
5. Daftar Pustaka  
Budhiman  S.  2004.  Mapping  TSM  concentrations  from  multisensor  satellite  images  in  turbid  tropical coastal  waters  of  Mahakam  Delta,  Indonesia  [Tesis].  Enschede  :  International  Institute  for  Geo-  Information Science and Earth Observation.  
Effendi I. 2009. Pengantar akuakultur. Jakarta: Penebar Swadaya.  
Hasyim B. 2003. Kajian daerah penangkapan ikan dan budidaya laut berdasarkan data penginderaan jauh  dan  sistem  informasi  geografis  wilayah  Kabupaten  Situbondo  [Tesis].  Bogor:  Institut  Pertanian  Bogor.  
Putra  GP.  2011.  Potensi  kawasan  budidaya  keramba  perikanan  laut  menggunakan  sistem  informasi  geografis  (SIG)  di  wila  yah  Kepulauan  Seribu,  DKI  Jakarta  [Skripsi].  Bogor  :  Institut  Pertanian Bogor.   
Samad  F.  2011. Analisis  kesesuaian  lahan  budidaya  rumput  laut  menggunakan  penginderaan jauh  dan  SIG di Taman Nasional Karimun Jawa [Skripsi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor.  [SNI] Standar Nasional Indonesia . 2010. Produksi rumput laut kotoni (Eucheuma cottoni) – Bagian 2:  Metode Long-line. Badan Standarisasi Nasional. SNI : 7579.2:2010.  
Sulma  S,  Hasyim  B,  Susanto  A,  Budiono  A.  2005.  Pemanfaatan  data  penginderaan  jauh  untuk  pengembangan budidaya laut. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh.  Kedeputian Bidang Penginderaan Jauh. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.  
Suwargana  N,  Sudarsono,  Siregar  VP.  2006.  Analisis  lahan  tambak  konvensional  melalui  uji  kualitas lahan  dan  produksi  dengan  bantuan  penginderaan  jauh  dan  SIG.  Jurnal  Penginderaan  Jauh  dan  Pengolahan Data Citra Digital 3(1): 1-13.  
Tuhumury RAN. 2011. Studi parameter oseanografi fisika dan kimia untuk kesesuaian budidaya rumput  laut di perairan Teluk Youtefa Kota Jayapura. SAINS 11(2): 69-77.  



link Jurnal :
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0CDQQFjAD&url=http%3A%2F%2Fsinasinderaja.lapan.go.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2014%2F06%2Fbukuprosiding_710-720.pdf&ei=oJV8VKX3F4OcuQT4nIGYCQ&usg=AFQjCNF332EGEALmiV4rrRtDwzqeG86Bww&sig2=J-y-vXTM4HV-phnUVdQi3w&bvm=bv.80642063,d.c2E

                                                                                                                                                                                                                         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar