Selasa, 17 Juni 2014

Mayday

May Day adalah satu peristiwa besar sejarah, sebuah memori kolektif kaum buruh. May Day diperingati untuk mengenang sebuah tragedi yang pernah menimpa kaum buruh di Chicago pada tahun 1886. Pada peristiwa itu, polisi Chicago menembaki kaum buruh dengan brutal ketika mereka sedang menggelar aksi untuk menuntut delapan jam kerja. Tidak hanya itu, beberapa pimpinan buruh yang terlibat dalam demontrasi tersebut juga ditangkap dan dihukum mati. May Day, dengan demikian, bukanlah peringatan yang bermakna biasa. May Day adalah hari berkabungnya kelas buruh, yang dalam pemaknaan selanjutnya menjadi hari untuk mengingat bahwa kelas buruh adalah kelas yang tertindas di dalam sistem kapitalisme ini.


Penetapan 1 Mei sebagai hari buruh internasional terjadi pada tahun 1889. Keputusan ini merupakan salah satu hasil dari kongres Internasionale Kedua yang diselenggarakan pada bulan Juli tahun 1889 di Paris. Tokoh terkemuka dalam pertemuan internasional ini adalah Fredrick Engels, yang  bersama-sama dengan Marx menulis Manifesto Komunis. Sejak saat itulah, tanggal 1 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Dan selain sebagai peringatan dan penghormatan terhadap pembantaian pernah terjadi di Chicago tersebut, May Day juga sebagai upaya kelas buruh untuk menumbangkan kapitalisme.

Di Indonesia, May Day mulai diperingati pada tahun 1920. Bahkan Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang merayakan 1 Mei sebagai hari buruh. Melalui UU Kerja No. 12 Tahun 1948, pada pasal 15 ayat 2, yang berbunyi “Pada hari 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban kerja”, kaum buruh Indonesia, pada masa itu, tiap tahun selalu memperingati May Day. Ini berarti sudah sejak lebih dari 90 tahun yang lalu May Day telah diakui sebagai harinya kaum buruh di Indonesia. Tetapi pada jaman Orba, tepatnya setelah peristiwa ’65, May Day tidak pernah lagi diperingati. May Day dianggap sebagai kegiatan politik yang subversif dan berideologi komunis. Pasca runtuhnya Soeharto ’98, buruh diperbolehkan lagi untuk memperingati May Day.

Jelas, dengan mengingat sejarahnya, May Day harus menjadi peringatan dengan karakter yang revolusioner. May Day bukanlah kenangan terhadap suatu “romantisme” yang diperingati layaknya hari raya keagamaan, hari ulang tahun, atau hari jadi sebuah pernikahan yang sarat  dengan kesenangan dan hura-hura. Lebih jauh, May Day adalah sebuah momentum untuk membangun kesadaran kelas dan memperkuat “persenjataan” politik.

Rosa Luxemburg, seorang revolusioner Marxis, yang bersama-sama dengan Karl Liebknecht pernah memimpin pemberontakan Spartakus di Berlin, berkata: ”Ide utama brilian dari May Day adalah gerakan maju massa proletar dengan segera, aksi massa politik dari jutaan buruh yang sebelumnya dipecah-pecah oleh negara melalui parlementarisme, yang kebanyakan hanya bisa mengekspresikan kehendaknya melalui kotak suara, melalui pemilihan perwakilan mereka.”

Tulisan Rosa memberi pengertian bahwa May Day, pada setiap tahapnya, harus terus bisa mencapai makna yang luar biasa. Dalam konteks buruh di Indonesia, peringatan May Day tahun ini harus bisa menjadi periode yang paling bergejolak dibanding sebelumnya. Sekarang adalah periode krisis ekonomi dan politik di negeri ini. May Day bisa menjadi media untuk mengumpulkan seluruh kaum buruh dengan memunculkan isu dan slogan yang sama. Terkait dengan isu kenaikan harga BBM, dan sebagai rentetan dari aksi-aksi buruh kemarin,  May Day bisa mem-blow up kebobrokan rejim SBY dan partai-partai borjuis lainnya dan memajukan slogan-slogan sosialis. Bahkan bagi Lenin, May Day adalah hari yang tepat untuk melakukan perjuangan terbuka menuju sosialisme.

Namun, tak bisa kita pungkiri, di sana-sini telah tejadi penurunan kualitas dalam menginterpretasikan May Day. Beberapa serikat buruh yang punya basis massa besar, dalam sebuah harian surat kabar di Surabaya, menegaskan bahwa mereka akan memperingati May Day dengan acara dangdutan dan pagelaran musik. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang pengurus federasi serikat buruh tersebut, bahwa hal ini supaya massa buruh tidak jenuh karena sehari-hari sudah berkutat dengan pekerjan di pabrik, dan dengan cara seperti ini, buruh dapat benar-benar menikmati libur sehari mereka di hari besar buruh ini.

Tentu pikiran di atas merupakan bentuk degenerasi yang harus segera dikritisi. May Day harus berarti perjuangan politik, bukan pagelaran budaya atau perayaan hari besar layaknya hari raya. May Day bahkan harus mampu mengilhami perjuangan buruh selanjutnya ke arah perjuangan kelas yang solid; mampu menggetarkan hati dan membuat takut kaum kapitalis; menggerakkan ‘kesadaran kelas’ kaum buruh menuju pemahaman bahwa revolusi sosialis adalah satu-satunya jalan menuju pembebasan kaum buruh.

Hari ini dunia sedang bergejolak dan kapitalisme mulai dipertanyakan oleh ratusan juta rakyat. Fenomena okupasi “Wallstreet” adalah bukti kapitalisme telah goyah bahkan di negeri dimana paham kapitalisme sangatlah kuat. Kapitalisme telah berayun ke bawah dan semakin bergerak ke dasar. Tajamnya kontradiksi ini penting sekali untuk segera direspon. May Day adalah acara besar yang tepat untuk meresponnya, dengan memberi kesimpulan akhir yang jelas: tak ada jalan lain untuk membebaskan buruh dari penindasan kapitalisme kecuali dengan jalan revolusi sosialis!

Di saat kapitalisme sudah memasuki krisis, reformasi sudah menemui jalan buntu. Bahkan di Indonesia ia sudah menemui jalan buntu sejak lama. Kita ingat Reformasi 1998 yang gagal. Kaum buruh sekarang sedang mencari jalan keluar dari jalan buntu reformisme ini. Setiap harinya mereka semakin tergiring ke jalan revolusioner.  Aksi-aksi buruh dalam menyikapi rencana kenaikan harga BBM kemarin telah menunjukkan hal itu. Bagi kaum buruh hari ini reformasi di bawah kapitalisme adalah cerita masa lalu. Oleh karena itu, arus reformisme seharusnya sudah tidak menemukan ruang lagi. Jika masih ada serikat buruh yang bergerak mundur, harus diwaspadai, berarti ada upaya-upaya yang kuat dari kaum reformis yang berada di serikat-serikaksiat buruh untuk mengalihkan perjuangan buruh yang mulai menapak ke arah revolusioner ini kembali ke arah normatif-ekonomik; arah sempit yang tidak bisa menawarkan jalan keluar dari kesengsaraan dan penindasan. Upaya kaum reformis akan selalu mengarah ke situ: mengubah watak May Day menjadi sekedar hari istirahat dan rekreasi, bukan sebagai hari perjuangan politik. Untuk para pemimpin serikat buruh yang reformis, May Day hanya dimaknai sebagai hari libur internasional kaum buruh.

May Day, sekali lagi, dilihat dari kesejarahannya, merupakan peringatan atas peristiwa bersejarah guna menciptakan perjuangan yang lebih revolusioner menuju pembebasan kaum buruh dari penindasan kapitalisme. Hal ini juga berarti perjuangan kaum buruh untuk mewujudkan cita-cita sosialisme. Untuk mempertegas tujuan utama dari peringatan May Day, Rosa menulis, bahwa May Day merupakan aksi dari solidaritas internasional dan sebagai taktik perjuangan bagi perdamaian dan sosialisme

http://www.militanindonesia.org/analisa-politik/17-akhir/8292-makna-may-day-bagi-kita.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar